MENUJU PILPRES DAN PILEG 2019

Tampilkan postingan dengan label Kota Pejalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Pejalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Agustus 2017

Rabu, 28 Desember 2016

FOTO: Penampakan Pedestrian Kota Makassar

Foto: Kandar Oliver 

smartcitymakassar.com - Kota Makassar terus bergeliat menuju kota dunia yang cerdas. Salah satu yang mengesankan adalah secara perlahan kota berjuluk Anging Mammiri ini semakin ramah terhadap pejalan kaki.

Foto: Kandar Oliver 

Kota yang menghormati pejalan kaki dengan pedestrian yang luas, nyaman dan lapang merupakan ciri kota yang menempatkan warganya sebagai subyek pembangunan. Kota dibangun untuk manusia.

Foto: Kandar Oliver 

Pedestrian Bundaratta yang terletak di jalan Penghibur, pantai Losari Makassar bahka dilengkapi dengan tempat nongkrong dan menjadi ruang publik yang nyaman. (Iskandar Burhan)

Jumat, 16 Desember 2016

Janette Sadik-Khan: It Is Pedestrians, Not Cars, That Drives The Economy

(Foto: Document of Smartcity Magazine & Online News and Information®, 2016)

Smartcitymakassar.com. --Makassar- Frommer’s, one of an integrated world travel service firms, shared tips about enjoying Munich. Enjoy the city by walk. Walk through the ‘English Garden’, one of the largest garden spaces in Europe that stretches from downtown to northeastern of the city, before having a glass of beer at Chinesischer Turm or ‘Chinese Tower’.

From Kaufingerstraße, take a walk to Marienplatz, a good place for window shops. Marienplatz is the heart of the city and a tourists and locals hub. From Marienplatz, pedestrians could continue on to a place of designer shops, Maximilianstraße. Amazing and great architectures, huge parks, and great places for shopping are features of these places in Munich.

It is true that the center of Munich is very pedestrians-friendly with structured land-use that closes each other.  Condition that creates active experience for pedestrians. Shops, café, museum and bars, line at sidewalks to offer many options for shopping, eating and enjoying the culture.

Frommer’s also provides the same tips for cities such as Florence, Paris, Amsterdam and Dubrovnik in Croatia. According to Time online, if you live in one of these cities of Washington D.C., New York City or Boston, then your main transportation mode is leg.

City Governments or designers take important and full attention to pedestrians. Today, pedestrian is one of the main components of city design. For example, the ‘car free city’ of China, a project that will build a new urban center for around 80,000 people outside Chengdu, will be entirely walkable.

Masdar in Abu Dhabi is currently constructing the world’s first zero-carbon city. The city will feature a public transportation system in place of automobiles. It will be fueled by solar, wind and geothermal power. City of Vienna and Stockholm even are extending the space for pedestrians mainly in sidewalks.

Future city or smart city according to Alexander Ståhle from KTH Royal Institute, Sweden, is a place for walk, or a walkable city. Innovative city has density, for example on land use. Good density means good public space that connects place for interactions. Walkability needs this density. Density does not depend on automobiles. The higher the density is, then the lower are automobiles use, and are conversely the higher the bike, public transportation and walk use.

The density, according to Alexander Ståhle, describes the smart city or even the smarter city.  Smart(er) city is a city that has low cost but high interactions. The places with high interactions are workplace, home, and walkspace. Highway is at the lowest position. Interaction places that require low cost are walkspace and bikeway, followed by workplace and home. Highways and railways is the places require the highest cost.

From the low cost and high interaction criteria, Alexander Ståhle listed 10 technologies for smart city. The three lowest among the lists are robot car, drone and high speed train. While the top listed technology is the sidewalk. “It is pedestrians, not cars, that drives the economy”, said Janette Sadik Khan from NYC DOT, and “high quality sidewalks are the most basic element of a democratic city”, said Enrique Penalosa from ITDP, as Alexander Ståhle cited them.

It is no doubt that world cities realized and are competing to bring their cities really walkable. Stockholm has been transforming from industry city (1910), tram city (1945), metro city (2010), to de-industrialized city, in order to be walkable city in coming 2025.

In America, Canada and Australia, a firm created a ‘walk score’ to inform and encourage people the walkable cities. The non-profit organization ‘Walk21’, working to connect and empower urban governments, citizens and communities to achieve a walkable future, has declared the ‘International Charter for Walking’. Around 4,000 people and organizations including several mayor’s and city government singed this charter.

The city that encourages and allows its people to choice and to be able to walk as the way to travel, to be healthy and to relax is a place where innovations are created faster, for better economic growth, with healthy environment, and to live. The world will tell this city. It is the world city.* (Riad Mustafa)

Janette Sadik-Khan: Pejalan Kaki, bukan Mobil, yang Menggerakkan Ekonomi

(Foto: Dokumen Smartcity Magazine & Online News and Information®, 2016)


Smartcitymakassar.com. --Makassar- Frommer’s, salah satu usaha jasa perjalanan wisata terpadu, memberikan tips atau kiat bagi yang hendak menikmati kehidupan kota Munich. Nikmati Munich dengan berjalan kaki. Misalnya, di siang hari, susurilah kota Munich dari English Garden, kawasan taman publik yang luas di pusat kota menuju timur laut, sebelum singgah meneguk segelas bir di Chinesischer Turm atau Chinese Tower.

Bagi yang berniat membawa cenderamata, window shops, Frommer's menyarankan berjalan melintasi Kaufinger Strasse melewati tempat yang terkenal, Marienplatz, ‘jantung’ kota dan pusat bagi wisatawan luar dan lokal. Dari Marienplatz lalu diteruskan berjalan menuju Maximilian Straße, tempat khusus gerai desainer. Arsitektur yang hebat dan mengagumkan, taman yang sangat luas, serta sejumlah tempat menarik untuk berbelanja adalah gambaran pusat kota Munich.

Memang pusat kota Munich banyak memiliki lokasi yang sangat ramah bagi pejalan kaki (very pedestrians-friendly). Pemanfaatan lahannya tertata baik yang berlokasi saling berdekatan satu sama lain. Hal ini menciptakan pengalaman aktif bagi para pejalan kaki. Hampir di setiap jalan berjajar toko, café, museum dan bar; lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk berbelanja, makan dan menikmati budaya Munich.

Begitu juga disarankan ketika mengunjungi kota Florence di Italia, Paris, Amsterdam, dan Dubrovnik di Kroasia. Menurut majalah versi online Time, jika Anda berada atau menetap pada salah satu kota di Washington DC, New York City atau Boston, maka moda transportasi utamanya adalah kaki.  Ketiga kota tersebut memang menempati urutan tiga teratas dalam kategori kota yang ramah bagi para pejalan kaki.

Para pejalan kaki menjadi perhatian penuh bagi pemerintah kota ataupun para desainer kota masa depan. Desain kota masa depan pun menempatkan para pejalan kaki sebagai salah satu unsur utama kota. Sebutlah misalnya car free city di Tiongkok, yang akan membangun pusat kota baru bagi 80,000 warga di luar kota Chengdu, yang keseluruhan areanya dapat diakses dengan berjalan (Walkable).

Kota Masdar di Abu Dhabi, yang mengklaim sebagai kota Metropolis paling sustainable di seluruh dunia, atau World’s first zero-carbon city, tidak akan memberikan ruang bagi mobil. Transportasinya menggunakan transportasi rapid transit system yang digerakkan oleh energi matahari, angin dan panas bumi. Di kota Wina dan Stockholm bahkan memperluas wilayah bagi pejalan kaki seperti di trotoar di sisi jalan.

Kota masa depan atau smart city menurut Alexander Ståhle dari KTH Royal Institute, Swedia, adalah kota yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau walkability. Kota yang inovatif adalah yang mempunyai kerapatan atau kepadatan (density) seperti pada pemanfaatan lahan atau land use. Kerapatan yang baik berarti baiknya ruang publik, dan menghubungkan tempat-tempat interaksi. Kondisi bagi pejalan kaki memerlukan kerapatan ini. Kerapatan ini tidak bergantung pada kendaraan atau mobil. Semakin tinggi kerapatan, semakin kurang penggunaan mobil, sebaliknya semakin tinggi penggunaan sepeda, transportasi publik, dan pejalan kaki.

Dari kerapatan ini Ståhle menjelaskan bahwa kota yang cerdas, atau bahkan lebih cerdas atau smarter, adalah yang memiliki kota yang mempunyai tempat interaksi yang tinggi dengan biaya lebih rendah (low cost high interaction). Tempat interaksi paling tinggi adalah di tempat kerja, lalu rumah, kemudian di tempat pejalan kaki dan paling rendah di daerah jalan raya. Interaksi yang memerlukan biaya paling rendah adalah di tempat pejalan kaki dan sepeda, menyusul tempat kerja atau kantor, dan paling tinggi di jalan raya dan stasiun kereta.

Berangkat dari kriteria low cost high interaction di atas, Ståhle mengurutkan 10 teknologi bagi kota cerdas. Tiga teknologi terbawa adalah masing-masing mobil robot, drone (pesawat tanpa awak) dan kereta kecepatan tinggi. Sementara pertama adalah sidewalk atau trotoar atau ruang pejalan kaki tepi jalan. “Adalah pejalan kaki, bukan mobil, yang menggerakkan ekonomi”, kata Janette Sadik Khan dari NYC DOT, dan “trotoar yang berkualitas merupakan elemen dasar sebuah kota demokratis”, menurut Enrique Penalosa dari ITDP, sebagaimana dikutip oleh Alexander Ståhle.

Tidaklah mengherankan jika kota-kota besar dunia menyadari dan saling berlomba guna membuat kotanya betul-betul dianggap sebagai kota pejalan kaki. Stockholm bertransformasi dari kota industri (1910), kota trem (1945), kota metro (2010), menjadi kota de-industrialisasi (2010), untuk menjadi kota pejalan kaki, Walkable city, di 2025 nanti.

Bahkan di Amerika, Kanada dan Australia sama-sama menetapkan walk score untuk memicu kota-kota mereka menjadi ramah bagi pejalan kaki. Organisasi nirlaba Walk21, yang bertujuan menghubungkan pemerintah kota, masyarakat, dan warga bersama mencapai masa depan yang ramah bagi pejalan kaki, mendeklarasikan International Charter for Walking. Piagam ini telah ditandatangani sekitar lebih dari 4,000 orang dan organisasi termasuk sejumlah pemerintah dan walikota.

Kota yang mendorong dan memberikan kepada warganya pilihan dan dapat berjalan kaki sebagai caranya untuk melakukan perjalanan ataupun kegiatan lainnya, untuk menjadi sehat, dan untuk bersantai adalah tempat yang tepat terciptanya inovasi yang lebih cepat, pertumbuhan ekonomi lebih baik, lingkungan yang lebih sehat, dan hidup. Kota ini bakal diceritakan oleh dunia. Kota dunia.* (Riad Mustafa) 

Smart City adalah "Walkable City": Surga Pejalan Kaki

Kota Stockholm, Swedia (Foto: Courtesy of Travel & Adventure Blog)


Smartcitymakassar.com. --Makassar- Jeff Loux, seorang turis, mengagumi kota Stockholm. Tidak untuk cuacanya; yang kadang berubah. Dengan cuaca demikian, warganya yang berjalan kaki tetap ramai. Ini mengherankannya, sekaligus membuatnya ingin tahu, membuatnya mengayun langkahnya menyusuri kota ini.

Ada kegembiraan di jalanan, temuannya. Jalannya luas, menyambung ke jalan-jalan lebih kecil, menghubungkan ruang-ruang publik serta sejumlah tempat menarik bagi pelancong. Rasa aman yang tinggi selama berjalan didapatinya. Pencahayaannya tampak tertata baik. Ruang-ruang “biru” dimana-mana; ada pelabuhan, terdapat dermaga dengan kapal-kapal tua dan baru, dan tepi laut.  Jalan-jalan “mengundang”nya.

Selama berjalan kaki, Jeff menemukan banyak bangunan bersejarah dengan beragam warna namun konsisten dalam pola dan gaya. Bahkan ada bangunan yang menurut Jeff tampak berbeda dari yang lainnya, “salah” bangun, namun tetap kelihatan konsisten. Tetap “menggaetnya” untuk menikmati kota ini.

Nuansa pembauran dalam fungsi lahan, sebagaimana ditemukan di kota-kota dunia, antara toko, restaurant, café, museum, bangunan pemerintah dan perkantoran, semakin membuat setiap sela persinggahannya terus menarik perhatiannya.

Adalah manusianya, warganya, adalah inti dari pengalaman Jeff. Ruang kota yang rapat atau 'dense' dengan segala keunikan daya tariknya. Terlihat geliat kegiatan ekonomi. Jalan-jalan yang beragam nan “hidup”. Inilah “undangan”, menurut Jeff, bagi para pejalan-kaki untuk, dengan bauran rasa ingin tahu serta gelora untuk menikmati daya tarik, terus menyusuri blok atau wilayah berikutnya, lalu blok berikutnya, hingga keseluruhan blok. “Undangan” yang tetap “hidup”.

Benih Stockholm sebagai kota pejalan-kaki, atau "walkable city", adalah kebijakan Vision Zero. Desain kebijakan ini ditujukan bagi mobil pribadi dan pengemudinya agar menjadi lebih aman berkendara di jalan-jalan utama dan wilayah di luar kota. Dalam perkembangannya, kebijakan ini merubah budaya berjalan warganya. Budaya yang menciptakan suasana kota yang bersemangat, tenang, dan hangat. Kehangatan budayanya digambarkan bagaimana lumrahnya ketika para pejalan kaki saling berbagi bekal makanan di atas meja lipat yang ditempatkan di sepanjang jalan. Walkable City adalah rencana kota Stockholm untuk warganya.

Kehangatan, ketenangan, suasana yang bersemangat kota, Walkable City, membawa pengaruh langsung bagi kualitas hidup warganya. Kota semakin kaya dengan interaksi manusianya. Lingkungan yang lebih sehat tercipta; kebisingan berkurang, lebih bersih, dan lebih aman bagi penduduknya dari semua usia.

Menurut Linda Kummel dari Spacescape, konsultan perencanaan kota di Stockholm, anak-anak dapat dengan aman bermain di jalan; tidak ada kerisauan mereka akan tertabrak oleh mobil. Walkable City adalah rencana kota masa depan Stockholm, menempatkan derajat warganya, manusianya, di atas kendaraan.

Alexander Ståhle, dari konsultan perencanaan kota, menunjukkan bahwa pertimbangan faktor jarak-tempuh berjalan kaki (walking distance factor) ternyata memiliki nilai moneter tertentu dihubungkan dengan toko, restaurant, budaya, perhentian ataupun transit, jalan, konektivitas, lahan parkir dan tepi laut.

Pasar properti atau tanah digerakkan oleh faktor tersebut, walking distance. Sisi ekonomi dari rencana kota Walkable City Stockholm sangat menguntungkan. Sementara keuntungan sosial dan lingkungan adalah bonusnya, imbuh Ståhle.* (Riad Mustafa)