MENUJU PILPRES DAN PILEG 2019

Tampilkan postingan dengan label Place. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Place. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

Pantai Marbo Kecamatan Tallo Bakal Disulap Jadi Destinasi Wisata


smartcitymakassar.com - Pantai Marbo yang berlokasi di Jalan Sultan Abdullah II Kelurahan Tallo Kecamatan Tallo memiliki potensi wisata kuliner dan bahari yang menjanjikan. Meski luasannya tak sepanjang pantai Losari namun jika dikelola dengan baik, bisa menjadi destinasi bagi wisatawan yang berkunjung ke Makassar.

Optimisme itu disampaikan oleh Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan 'Danny' Pomanto saat launching PLPBK (Penataan Lingkungan Pemukiman Berbasis Komunitas), Kerajinan Eceng Gondok, dan Kuliner Khas Tallo, serta Pengukuhan Komunitas Bersih (Kombes) kecamatan Tallo di pantai Marbo, Minggu, (28/08/2016).

Menurutnya pengembangan pantai Marbo menjadi kawasan wisata dapat meningkatkan taraf ekonomi warga, terlebih dengan adanya PLPBK potensi itu semakin mudah untuk dikembangkan.

Pemukiman warga yang tertata sesuai standar kesehatan (memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus) menjadi awal pengembangan daerah pesisir ini sebagai tujuan wisata.

Rumah makan yang menjajakan kuliner khas bahari semisal ikan laut dengan aneka olahan paling memungkinkan untuk dikembangkan.

"Sepanjang pantai Marbo bisa kita dirikan rumah makan yang menyajikan kuliner khas bahari seperti ikan bakar. Bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat," papar Danny.

Potensi itu semakin menjanjikan dengan pengembangan kerajinan tangan berbahan eceng gondok dan kuliner khas Tallo yang ikut launching hari itu.

Ke depannya berbagai program pemerintah kota akan diprioritaskan bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar pantai Marbo semisal penghijauan, dan Singarana lorong ta.(iskandar burhan)

Sabtu, 30 Januari 2016

Melihat Biru dan Coklatnya Finlandia dari Mercusuar Bengtskär



Smartcitymakassar.com. --Makassar- Ada terasa kesan persamaan sekaligus perbedaan tahu-tahu tumbuh saat tiba di tujuan.  Perjalanan menuju tujuan tersebut memberikan kesan pengalaman khusus, tersendiri, yang berbeda dengan perjalanan sebelumnya selama di kota Turku. Kota ini terletak di Sungai Aurajoki sebelah barat daya Finlandia dan merupakan kota tertua di negara tersebut. Di sinilah kami mengikuti kegiatan workshop diorganisir oleh BalticStudyNet dari Humboltd Univesität zu Berlin yang didanai oleh European Commission dalam kerangkan Erasmus Mundus.

Tujuan perjalanan kami adalah sebuah pulau karang sekitar 2 hektare luasnya. Bengtskär nama pulaunya, termasuk wilayah administrasi kota Kimitoön. Di sana berdiri kokoh sebuah mercusuar atau lighthouse yang terkenal di Finlandia.  Namanya Bengtskär Lighthouse. Usianya lebih 100 tahun. Dikenal tegar mengawal sejarah Finlandia sejak era Perang Dunia ke II hingga masa kini.  Bangunan mercusuar hanya mengalami kerusakan sedikit walaupun dibombardir oleh kapal penjelajah Magdeburg dan Ausburg dari Jerman tahun 1914. Oleh tentara Finlandia, mercusuar ini menjadi posisi menentukan untuk mengawasi aktifitas tentara Soviet yang menyerang wilayah sekitarnya seperti di Hanko. Mercusuar dengan menara tertinggi di wilayah Skandinavia, berdiri 52 meter di atas permukaan laut, rutin mengalami masa cuaca terekstrim. Juga rutin mengalami iklim yang membuat pengunjung akan betah menikmati suasana alamnya. Di bulan Juli seperti ini, Mercusuar Bengtskär adalah waktu betah itu, menjadi tujuan wisata, termasuk bagi rombongan kami.

Berangkat dari Turku, dibutuhkan sekitar 1,5 jam dengan bus menuju dermaga Kasnäs. Dalam perjalanan, sebuah sungai dilintasi dengan menggunakan feri kecil. Di Dermaga Kasnäs, sambil menunggu perahu kecil yang membawa ke Bengtskär, rombongan kami mampir di dua buah rumah khas Kasnäs yang menjual souvenir khas setempat.

Dengan menggunakan perahu kecil, kapasitas sekitar 10 orang, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai Bengtskär.  Dalam perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan perahu kecil lain yang penuh penumpang.  Di sekitar dua atau tiga pulau yang dilewati tampak hiruk-pikuk seperti bermain di air ataupun acara makan bersama keluarga dan kerabat di tepi laut, kami nikmati selama perjalanan.  Di pulau-pulau tersebut, ada beberapa rumah kecil, dengan bentuk hampir serupa, umumnya berwarna merah maroon ataupun putih yang dilingkari oleh dominasi warna hijau pepohonan.




Menumpangi dua perahu, kami tiba di pulau karang Bengtskär sekitar jam 12 siang. Pemandu wisata segera membawa kami ke satu ruangan pada bagian bawah mercusuar.  Ada beberapa kursi sebelum masuk ruangan.  Bagian dalam ruangan berfungsi sebagai toko kecil.  Beberapa souvenir tersusun rapi, seperti baju kaos, buku, jaket, gantungan kunci, serta asesori lain dalam bentuk mercusuar beragam ukuran.  Minuman hangat seperti kopi dan teh juga dijual di ruangan ini.

Di ruang keluarga penjaga mercusuar, tujuan berikutnya di dalam mercusuar, kami disuguhi makan siang.  Sup panas dan roti gandum khas membuat kami semakin antusias, karena setelahnya akan dibawa ke puncak menara mercusuar atau di ruang reflektor.  Untuk menuju ke sana, tangga putar berbentuk spiral harus dilalui.  Jumlah anak tangganya, menurut buku saku yang kami dapatkan di sana, adalah 252.  Sejumlah 6 jendela terletak di sisi mecusuar untuk melihat ataupun menengok suasana di luar didapati sebelum menuju puncak.

Terpesona.  Itulah hal yang serempak terbersit.  Ruang reflektor tersebut diselubungi oleh kaca tebal.  Kekaguman menikmati luasnya laut dari ketinggian sekitar 50-an meter dari permukaan laut.  Dari atas tampak pulau Bengtskär menunjukkan kekerabatannya dengan sifat kedalaman dan stabil berpadu dengan suasana santai, lepas namun meyakinkan dengan dominasi biru dan coklat.  Ramainya pengunjung mercusuar dengan beragam warna pakaian menjadi penyemarak dominasi biru dan coklat.  Sesekali ombak yang menghantam tepi karang dari pulau tidak dapat menunjukkan kepada kami karakter ketegaran mercusuar.  Di bulan Juli ini ombak memahami hasrat para pengunjung untuk menikmati mercusuar Bengtskär.




Dari mercusuar, kami lalu mendengar sejarah pulau ini sambil duduk pada batu karang berjajar panjang berfungsi sebagai tempat duduk di suatu tempat terbuka dekat bangunan mercusuar.  Ada banyak pengunjung telah duduk.  Sebagian tidak memperhatikan cerita sejarah, tapi menikmati suasana di sana.  Memang, hembusan angin laut serta pemandangan luas tanpa batas menuju laut adalah rayuan yang meluluhkan perhatian mereka terhadap cerita tersebut.

Mengunjungi Pulau Bengtskär adalah pengalaman baru.  Mercusuar adalah bangunan khusus.  Perlu waktu dan musim tertentu ke sana.  Berada di tower mercusuar sungguh pengalaman unik.  Mengetahui cerita dan pengalaman penjaga mercusuar beserta keluarganya adalah pengetahuan baru. Yang saya tahu, hampir semua teman pertama kali menginjak mercusuar.  Walau beberapa kunjungan sebelumnya di kota Turku juga sama memberikan kesan, mengunjungi Pulau Bengtskär sungguh memberikan kesan juga, namun berbeda.* (Riad Mustafa)

Minggu, 27 Desember 2015

Kerja Sama Cape Town-Makassar Mulai Dijajaki



smartcitymakassar.com –MAKASSAR- Program kerja sama antara Cape Town, Afrika Selatan dengan Kota Makassar mulai dijajaki. Hal ini terungkap ketika Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto menerima rombongan tour wisata peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dari Western Cape, Afrika Selatan.

Dipimpin oleh Konjen RI untuk Cape Town, Abdul Rachman Dudung, rombongan yang berjumlah 39 orang ini bertujuan memperpanjang Memorandum of Understanding (MoU) anatara CapeTown dengan Makassar sekaligus merupakan penjajakan kerja sama lebih mendalam antara kedua kota ini.

“Kunjungan ini merupakan kegiatan tahunan di Afrika Selatan dan juga keinginan menghidupkan kembali MoU Sister Province  antara Provinsi Western Cape  dan Sulsel di mana ibu kota provinsinya adalah CapeTown dan Kota Makassar”, kara Rachman Dudung.

Menurutnya, MoU antara Western Cape dengan Sulsel telah berakhir 2010 lalu dan berharap bisa dilanjutkan kembali di tahun 2016 ini. Di samping itu, pihak Cape Town juga ingin lebih mempererat kerja sama di bidang pendidikan, parawisata dan kebudayaan yang selama ini sudah terjalin baik.

Bersama rombongan, turut pula tokoh agama, cendekiawan, sejumlah jurnalis radio dan TV Islam Afrika Selatan serta media Voice of Islam yang akan mengabadikan peristiwa dan kunjungan ini.

Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto menyambut baik hal ini dan mengatakan Pemkot Makassar terbuka setiap saat bagi siapa pun yang ingin kerja sama. Menurut Wali Kota, kunjunngan ini sangat bersejarah mengingat antara CapeTown dan Makassar memiliki hubungan sejarah yang baik dengan ketokohan Syehk Yusuf.


“Hubungan historis ini harus diabadikan dengan terus meningkatkan kerjasama yang telah terjalin selama ini”, ucapnya. * (Iskandar Burhan)

Kamis, 05 November 2015

Pasar Malam Chiang Mai yang Ramai

Menikmati kota Chiang Mai, yang terletak di bagian utara Thailand, hanya dengan tiga malam dan empat hari serasa tidak cukup.  Apalagi beberapa dari kami tiba di bandara Chiang Mai International Airport persis tengah malam, disela menuju pergantian hari.  Jarak dari bandara ke hotel yang umumnya ditempuh sekitar 20 menit, hanya butuh sekitar 15 menit mencapai Hotel Centara Duangtawan.  Memang, kota sedang “beristirahat”.

Foto by Chalermchai / Guide Trip Web

Kami mencoba menikmati “denyut” kota sekitar jam tujuh pagi di hari pertama, Senin akhir November 2013 lalu.   Setelah menyelesaikan makan pagi, sekitar jam 7-an, saya dan seorang teman workshop, mencoba menemukan ciri Chiang Mai sebagai kota yang didatangi 2 jutaan pengunjung pertahun.  Hotel tempat kami menginap, Hotel Centara Duangtawan, terletak persis pada perempatan persimpangan antara Loykroh Road dan Loykroh Land 4.  Posisi yang tepat untuk mencari “sentuhan” kota. 

Luas kedua jalan di persimpangan tidaklah terlalu luas, dengan sidewalk bagi pedestrian hampir dua meter lebarnya.  Hanya bisa empat mobil berpapasan.  Jalan-jalan,  yang tampak begitu bersih, menyambut udara kota yang nyaman.  Deretan toko di depan hotel kami rata-rata berukuran kecil.  Hampir semua toko telah dibuka.  Satu toko telah mengatur rapi beberapa sepeda motor tepat di depan tokonya.  Disewakan khususnya bagi wisatawan, seperti dijelaskan salah satu penduduk lokal yang kami tanya.  Satu-dua songthaew, kendaraan umum lokal, melintas bersama kendaraan pribadi, diselingi sepeda motor, di jalan depan hotel.  Dari penampilan pengendara dan penumpang, tampaknya mereka bersiap ke tempat kerja.  Irama kehidupan sekitar wilayah hotel tampak dimulai dengan perlahan.  Suasana yang membentuk “gairah” yang masih belum lengkap. Belum sepenuhnya menyentuh, saya merasakan.

Toko depan Hotel Centara Duangtawan, Chiang Mai, Thailand
Foto Riad Mustafa
“Sentuhan” kota mulai tampak, justru muncul di depan hotel kami.  Di depan hotel, sejumlah bus besar parkir, menurunkan lalu membawa sebagian besar wisatawan.  Ada banyak ragam bahasa kami dengar.  Keramaian bertambah dengan sejumlah penjaja lokal, umumnya menjual buah-buahan segar.   Ada juga menjual pernik asesori.  Hiruk-pikuk tampak.  Chiang Mai perlahan bergerak.  Namun, kami harus kembali ke kamar hotel, bersiap mengikuti workshop, hingga sore hari, sekitar jam 5.

Di Malam hari kota, yang terletak di ujung utara Thailand ini, “menjawab” gairah  kami yang belum lengkap.  Keluar dari hotel dan menyeberang persimpangan empat, hotel internasional bintang empat Le Meridien menyambut pejalan kaki yang memenuhi kedua sisi sidewalk Loykroh Road.   Sidewalk ini menuju ke pusat night market yang terletak di Chang Klan Road, sekitar 200 meter arah timur.  Wisatawan, dari Asia namun kebanyakan wisatawan barat, lalu lalang di kedua sisi sidewalk, sekitar pukul 9-an malam hari.

Tepat di perempatan Loykroh Road dan Chang Klan Road, adalah tempat restauran international Le Bistrot.  Sebagian meja-meja berada di luar restauran.  Tidak ada kursi tersisa.   Hampir seluruhnya wisatawan barat memenuhi kursi restauran.   Di ujung lain perempatan, terdapat dua toko cepat saji terkenal; Burger King dan McDonald’s.

Walau sepanjang Chang Klan Road tidak ditutup penuh, namun tampaknya seperti tidak diperuntukkan bagi kendaraan pada saat pasar malam.  Hanya lautan orang yang memadati keseluruhan badan jalan.  Satu dua mobil yang melintasi harus perlahan melaju, sambil selalu mendahulukan pejalan yang akan menyeberang.  Di bahu jalan sejumlah songthaew dan tuk-tuk, kendaraan umum beroda tiga, parkir.  Beberapa orang khusus bertugas menawarkan jasa ke pejalan kaki.

Menyusuri bagian dalam sisi jalan sepanjang Chang Klan Road, beragam hal menawarkan “magnet” bagi pengunjung.   Bagi yang memang berupaya merasakan “sentuhan” Chiang Mai, mereka dapat singgah ke pengrajin payung ataupun pemahat sabun.  Bisa juga mampir ke penjaja kerajinan tangan khas Ching Mai. Beragam bisa ditemukan di tempat itu seperti pakaian,asesori, sutra khas Thailand, perhiasan, jam tangan, serta beragam perhiasan kecil termasuk mainan.  Beberapa penjaja khusus menjual buah-buahan serta makanan ringan ala Thailand.   Di sepanjang jalan Chang Klan Road ini juga ditemukan toko kamera, internet café, agen perjalanan, tempat pijat, dan banyak toko lainnya.  Ada bahkan tempat bagi para wisatawan berfoto dengan memakai pakaian tradisional setempat.  Yang menarik adalah harga yang dijual, khususnya barang hasil kerajinan tangan, tidak mahal.  Bisa ditawar.  Juga, pusat pembuatannya tidak jauh dari night market.

Tidak terasa, penyusuran kami berempat, harus segera dihentikan ketika jam menunjukkan angka 10 di malam itu.  Workshop hari kedua harus kami utamakan, walaupun night market masih terus memenuhi benak kami.  Isyarat masih banyak bagian night market “memanggil” kami. 

Waktu selebihnya adalah tentang workshop, hingga akhirnya menuju bandara di siang hari, 27 November 2013.  Sentuhan Chiang Mai masih kuat di benak.  Beberapa teman lain juga mengiyakan.  Memang, merasakan “sentuhan” Chiang Mai hanya dalam beberapa hari, disela kegiatan lain, tidaklah cukup.  Namun demikian, saya sepenuhnya senang berada di sana, ditemani oleh Adisorn ode-sri, panitia workshop, dan seluruh anggotanya.  Adisorn tidak hanya bertindak sebagai panitia, namun sebagai guide, penolong kami ketika butuh terjemahan dari tulisan beraksara Thai, sebagai teman berkelakar, dan sebagai wakil dari warga Chiang Mai. 


Riad Mustafa
redaksi@smartcitymakassar.com

Selasa, 03 November 2015

Banff, Kota Resort di Alberta, Kanada

Foto: Nortwest Arkansas Online / Paul Zizka
Adalah sebuah pendapat yang sangat beralasan yakni belumlah sah bila seseorang mengunjungi Kanada jika tanpa mengunjungi Banff. Betapa tidak, Banff yang terletak sepanjang Trans-Canada Highway dan berlokasi dalam kawasan Banff National Park pada tahun 1985 ditetapkan sebagai ‘World Heritage Site’ oleh Unesco, Perserikatan Bangsa Bangsa itu merupakan destinasi wisata yang paling terkenal di Kanada.

Ditempati sebagai areal pemukiman bagi para pekerja proyek jalan kereta api trans-kontinental yang melalui Bow Valley ditahun 1883. Dua tahun kemudian, tiga orang pekerja proyek tersebut menemukan rangkaian tempat permandian air panas alami disisi Sulphur Mountain. Ditahun yang sama, 1885, Pemerintah Kanada membentuk ‘federal reserve’ untuk wilayah seluas 26 km2 disekitar Cave and Basin hot springs serta memulai mempromosikan areal tersebut sebagai kawasan wisata internasional sebagai upaya mendukung proyek jalan kereta api baru ditahun 1887. Destinasi tersebut bertumbuh menjadi 673 km2 lalu dinamakan sebagai ‘Rocky Mountain Park’. Seperti demikianlah awal mula terbentuknya sistem Canada’s National Park.

Selain dikelilingi oleh pegunungan, Banff memiliki ornamen alam yang cukup lengkap karena juga terletak disekitar dua aliran sungai yakni, Bow dan Spray serta air terjun Bow. Pemerintah sangat sadar tentang ketersediaan lahan pemukiman, kepadatan penduduk akan sangat berpengaruh tehadap keseimbangan alam di wilayah Banff, sehingga dalam rangka menjaga daya dukung populatif Parks Canada menetapkan aturan yang ketat atas ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi bagi seseorang untuk dapat menetap secara resmi sebagai penduduk kota Banff.

Banff sendiri merupakan nama yang diberikan oleh President Canadian Pacific Railway, George Stephen ditahun 1884 untuk –awalnya- hanya sebagai pusat layanan atau service centre bagi para turis yang sedang mengunjungi Banff National Park. Namun perkembangannya kemudian Banff menjadi sebuah Kota Resort.

Norman Luxton, seorang tokoh terhormat yang dikenal dengan sebutan ‘Mr. Banff’ menerbitkan Crag and Canyon Newspaper-lah yang membangun King Edward Hotel and the Lux Theatre, mendirikan Sign of the Goat Curio Shop dan menjadi awal berdirinya Luxton Museum of Plains Indians (saat ini menjadi Buffalo Nations Museum). Noman Luxton dan keluaganya tercatat sebagai tokoh Eropa yang mengorganisir terlaksananya Banff Indian Days serta Banff Winter Canival.

Sebuah team kerja dari International Astronomical Union, group peneliti untuk planetary system Nomenclature (AU/WGPSN) secara resmi menggunakan nama ‘Banff’ untuk sebuah wilayah lembah pada permukaan planet Mars pada titik koordinat 17.7° utara dan longitude 30.8° barat dengan diameter sepanjang 5 km.

Meski mempunyai cadangan minyak khususnya di propinsi Alberta, Kanada juga dikenal sebagai bangsa yang konsisten dan antusias dalam hal pelestarian dan konservasi alam seakan menyeimbangkan faktor peningkatan ekonomi yang selaras dengan sektor pemeliharaan serta pelestarian lingkungan hidup. Bahkan bentang pegunungan Rocky (Rckies Mountain) dengan beberapa puncaknya antara lain; Kananaskis, Fortress, Rundle, Norquay, Drumheller, Cascade, beberapa diantaranya menjadi tujuan para pecinta olah raga ski maupun olah raga salju lainnya dari pelosok dunia dan pada gilirannya menjadikan kelestaian dan keindahan alam sebagai sumber pertumbuhan ekonomi melalu pengelolaan industri ski resort.

Selain sebagai kota resort, hal yang menarik tentang kota Banff bagi Penulis secara pribadi adalah ketika mendapat undangan dari Banffraiil Company, operator ski resort pada puncak Fortress dibulan Oktober 2005. Saat itu merupakan acara resepsi penggalangan dana bagi organisasi dan komunitas yang reliable dan capable atas program-program pelestarian dan perlindungan alam Pegunungan Rocky. Acara tersebut juga dihadiri oleh para pengelola ski resort serta industri terkait yang beroperasi di wilayah yang sama yakni The Canadian Rockies, termasuk Banffrail Company.  Menariknya adalah, saat itu kota Banff menjadi titik temu, antara kepentingan ekonomi disatu pihak dan kepentingan pemeliharaan alam serta kelestarian lingkungan hidup dipihak lain.


M. Iqbal Nur Abdurrahman
redaksi@smartcitymakassar.com

Kamis, 22 Oktober 2015

Perlunya Konservasi Kawasan Kota Tua di Makassar


Smartcitymakassar.com. --Makassar--. Sebuah kota selalu hadir dalam sebuah rangkaian panjang yang menghubungkannya dengan masa lalu. Dengan begitu sejarah kota tidak akan terputus dan senantiasa terjalin dalam dinamika kehidupan masyarakatnya. Demikian pula dengan keberadaan kawasan kota tua (bangunan tua) yang ada di Kota Makassar.

Berbagai penelitian pernah dilakukan dalam kaitan perlunya konservasi kawasan kota tua di Makassar. Salah satunya pernah dilakukan oleh  peneliti Universitas Hasanuddin, Bambang Heryanto dkk. Dalam penelitian ini,  ditekankan pada bagaimana tata kelola (management) dalam konservasi kota tua Makassar. Hasil penelitiannya berupa konsep dan panduan rancangan memberikan catatan penting bahwa bangunan kolonial seperti Benteng Rotterdam, rumah jabatan wali kota dan beberapa bangunan lainnya, memberikan makna historis yang sangat kuat.

Dengan demikian, dalam penataannya titik tekan yang dimunculkan hendaknya berupa  pembentukan skyline kawasan dan jalur pedestrian mall yang menghubungkan Benteng Rotterdam dengan kawasan pertokoan Somba Opu dan Pantai Losari.* (Iskandar Burhan)